Selamat Datang di Situs Resmi | SMAN 1 Banjaran | www.sman1banjaran.sch.id
Jam
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Menurut anda siapkah UN dilaksanakan berbasis Komputer ?
Siap
Tidak
Ragu-ragu
  Lihat
Statistik

Total Hits : 51868
Pengunjung : 24499
Hari ini : 62
Hits hari ini : 87
Member Online : 28
IP : 162.158.79.224
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

lung_com    
Agenda
23 February 2020
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
1
2
3
4
5
6
7

RESTORASI PENDIDIKAN

Tanggal : 22-09-2017 18:34, dibaca 216 kali.

OLEH ISMAIL KUSMAYADI

Pendidikan senantiasa menjadi pembahasan yang tiada habisnya sepanjang tarikan napas kehidupan. Dalam rencengan dari generasi ke generasi, pendidikan selalu hadir sebagai kodrat Illahi bagi manusia yang diberi kelebihan untuk berpikir. Pada akhirnya, pendidikan harus mewujudkan manusia yang manusiawi, bukan manusia yang hewani. Oleh sebab itu, bagian terdalam yang disasar oleh pendidikan adalah akhlak atau karakter manusia.

Pendidikan selalu dimaknai sebagai proses transfer nilai, norma, etika, dan agama untuk mengisi ruang-ruang kosong atau menetralisasi hal-hal negatif yang ada dalam diri manusia. Maka tidak heran jika proses pendidikan ada sejak manusia diciptakan. Hanya saja dalam perkembangannya sangat dipengaruhi pemikiran-pemikiran manusia sendiri dalam menafsir arah dan tujuan pendidikan.

Setidaknya itulah esensi pembicaraan dalam sebuah seminar pendidikan yang digagas IKA UPI beberapa waktu yang lalu. Makin mengemukanya penerapan pendidikan karakter positif/ akhlak mulia menunjukkan ada yang keliru—untuk tidak menyebut salah kaprah—dalam pelaksanaan pendidikan Indonesia selama ini. Terlebih euforia reformasi yang bergulir sejak 1998 menunjukkan gejala kebablasan: siga kuda kaluar tina gedogan. Kita ingin melepaskan diri dari kungkungan rezim Orde Baru. Segala hal yang beraroma Orde Baru ditanggalkan, seperti melucuti pakaian dan mengganti dengan pakaian yang baru, yang ternyata dalam beberapa hal tidak lebih baik dari pakaian sebelumnya.

Menurut Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum, daya saing bangsa Indonesia masih jauh dari ideal. Beberapa survei dan penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup, kualitas manusia, dan kualitas pendidikan masih relatif rendah. Survei yang dilakukan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tentang kualitas pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan 10 terbawah dari 76 negara. Padahal, pendidikan menjadi fondasi utama dalam membangun kualitas manusia dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Kesadaran akan pentingnya penanaman budi pekerti atau akhlak mulia di tengah-tengah zaman yang makin “edan” ini patut kita apresiasi. Para siswa kita membutuhkan sosok-sosok yang patut diteladani dalam hal berpikir, bertutur, bersikap, dan berperilaku. Maka gagasan untuk melakukan restorasi pendidikan perlu segera direalisasikan dan diaplikasikan.

Dalam KBBI, ‘restorasi’ bermakna pengembalian atau pemulihan ke keadaan semula. Dalam konteks pendidikan istilah ‘restorasi’ berarti gerakan menuju kehakikatan dengan mengembalikan sesuatu kepada nilai-nilai dasarnya. Bagi pendidikan Indonesia, restorasi pendidikan sangat diperlukan untuk menjaga pendidikan dan keindonesiaan tetap berpijak pada nilai-nilai dasarnya. Sebab, saat ini pijakan dasar pendidikan Indonesia diindikasikan telah berorientasi ke Barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan.

Apa rujukan yang tepat untuk merestorasi pendidikan Indonesia? Konsep pendidikan yang diperkenalkan Ki Hajar Dewantara layak dijadikan dasar konsep pendidikan nasional. Gagasan pendidikan ala Ki Hajar Dewantara berakar pada nilai-nilai nasionalisme Indonesia yang dapat disarikan menjadi tiga gagasan pokok, yakni pertama, pendidikan sebagai usaha memanusiakan manusia. Pendidikan dipandang sebagai usaha memelihara dan mengembangkan potensi insani agar menjadi manusia seutuhnya, yang meliputi jiwa, pikiran, dan tubuh.

Kedua, pendidikan jalan menuju kemerdekaan. Konsep ini bukan hanya bermakna kemerdekaan secara kemandirian berbangsa dan bernegara, melainkan juga kemerdekaan jiwa, pikiran, dan tubuh. Kemerdekaan menentukan nasib sendiri secara pribadi juga harus diimbangi dengan sikap toleransi, musyawarah, kekeluargaan, kebersamaan, demokrasi, tanggung jawab, dan disiplin agar tidak mengganggu kemerdekaan orang lain.

Ketiga, pendidikan sebagai konsep yang holistik yang mencakup berbagai bidang. Pendidikan harus dilaksanakan sepanjang hayat. Sebab, pendidikan merupakan proses yang bertahap dan tuntas sehingga melahirkan konsep tri-nga: ngerti, ngerasa, dan ngelakoni.

Janganlah kita selalu silau dengan konsep-konsep Barat yang belum tentu sesuai diterapkan dalam pendidikan Indonesia. Sebelum proses pendidikan menyimpang terlalu jauh, maka restorasi pendidikan harus segera direalisasikan demi menyelamatkan generasi muda Indonesia, demi kejayaan bangsa Indonesia agar disegani negara-negara di dunia.

Penulis adalah guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Banjaran
*Tulisan ini dimuat di Forum Guru Pikiran Rakyat pada Jumat, 15 September 2017



Pengirim : OLEH ISMAIL KUSMAYADI
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas